Dengan Cinta Kita Bertumbuh

Dengan Cinta Kita Bertumbuh

Opini

Helen WidayaDitakdirkan menjadi seorang Apoteker adalah sebentuk anugrah dari Tuhan. Bagaimana tidak?..coba sejenak kita bayangkan..rangkaian perjuangan yang kita jalani untuk meraih gelar kesarjanaan dan profesi..sungguh bukan hal yang mudah. Tidak jarang terkadang kita merasa lelah diperjalanan,..kuis demi kuis, praktikum-praktikum, bergelut dengan reagen dan sebagainya. Bahkan karna akrabnya kita dengan laboratorium, rasanya ‘hantu-hantu labor’ bukan makhluk yang asing lagi bagi kita…

Alhamdulillah..dengan segala upaya dan dukungan dari semua pihak serta izin Allah, sekarang gelar Profesi itu telah melekat di diri kita. Apoteker ! , kita bangga dengan gelar profesi ini..sangat bangga..

Tapi cukup kah dengan sekedar rasa bangga?

Tidak..

Tentang ilmu, pengetahuan serta wawasan..rasanya para Apoteker Indonesia Umumnya dan Sumatera Barat khususnya tidak ketinggalan. Materi-materi kefarmasian mungkin telah meletup-letup di otak kita saking banyaknya. Farmakologi, Farmakokinetik, Farmasi Klinik, Kimia Bahan Alam dan semua mata kuliah serta perkembangan terkini dari ilmu-ilmu tersebut kita selalu update. Paham, hafal luar kepala. Workshop, seminar, kuliah lagi, kuliah lagi, kuliah lagi, ilmu lagi, ilmu lagi, ilmu lagi. Penuh dan Mantap.
Tapi apakah semua itu cukup untuk membuat Profesi kita eksis?..

Apakah dengan ilmu dan pengetahuan tersebut mampu membuat Profesi kita di pandang?

Tidak!!!

Belum cukup dan tidak ada ruh nya.

Untuk membuat harapan kita menjadi nyata..profesi kita Berjaya, tak ada lagi yang melecehkannya,dan membuat kehadiran kita berharga..kita harus bisa membuatnya punya ruh. Apa itu?

Ya, benar..

CINTA!!
Kita harus mampu menumbuhkan rasa cinta disanubari terhadap profesi.
Dengan Cinta lah kita bisa berkarya
Dengan cinta lah kita terdorong untuk melejitkan profesi ini.
Dengan cintalah kita mau menjalankan tuntutan profesi
Dengan cintalah kita ‘menjaga’ nama baik profesi..
Dengan cintalah kita menjadi akrab dalam satu ikatan yaitu IAI

Kenapa harus ada CINTA???
Karna hakekat dari cinta itu adalah menumbuhkan..
Jika kita mencintai sesuatu.. pasti kita ingin membuatnya menjadi lebih baik dari hari ke hari..pasti kita ingin yg kita cintai terjaga..pasti kita ingin yang kita cintai di pandang..
Kita berfikir untuk selalu ekspansi.
Tak apa-apa kita berada dimana saja. Menjadi kepala daerah, kepala rumah sakit, kepala dinas, dosen, kerja di industri, wiraswasta atau apa saja..
Tetapi jangan pernah lupakan profesi..berfikirlah untuk membeir konstribusi, berbuat yang terbaik apa yang kita bisa untuk kemajuan profesi. Lakukan amanah-amanah profesi..dan menjalin hubungan baik dengan semua teman-teman seprofesi…
Sekarang masyarakat menanti..
Kelak jika semua sudah merasakan arti kehadiran kita..
Mereka akan slalu ingat.. dengan atau tanpa JASISASI…
Selamat Berkarya..

Salam
Helen Widaya, S. Farm, Apt (Apoteker di Puskesmas Kurai Taji, Kota Pariaman)

Era Baru Dunia Kefarmasian Indonesia

Opini

Oleh: Berly Surya Dharma, S.Farm, Apt

berly surya dharmaPergeseran paradigma kefarmasian dari “Drug Oriented” menjadi “Patient Oriented” merupakan sebuah hal yang mesti direspon positif oleh semua kalangan, baik itu pemerintah, farmasis maupun masyarakat. Perubahan paradigma ini melahirkan sebuah produk yang dinamakan dengan “Pharmaceutical Care”.

 

Tidak hanya meracik obat

Secara sederhananya, pharmaceutical care merupakan sebuah bentuk optimalisasi peran apoteker dalam melakukan terapi obat pada pasien guna meningkatkan derajat kesehatan pasien itu sendiri. Hal ini berarti mengubah bentuk pekerjaan apoteker yang semula hanya berada di belakang layar menjadi sebuah profesi yang langsung bersentuhan dengan pasien.

Perubahan ini juga berarti bahwa pekerjaan apoteker tidak lagi hanya meracik dan menyerahkan obat saja kepada pasien, tetapi bertanggung jawab juga terhadap terapi yang diberikan kepada pasien. Hal ini berarti pekerjaan kefarmasian di era patient oriented ini jika terlaksana dalam sebuah sistem kesehatan nasional maka dipastikan akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Mengapa? Karena kompetensi apoteker menjamin keselamatan pasien dalam hal penggunaan obat.

Kompetensi dan kolaborasi

Namun, perubahan paradigma ini bukan berarti tidak menimbulkan permasalahan. Ada  hal-hal yang menjadi penyebab sulitnya menerapkan konsep pharmaceutical care dalam dunia kefarmasian Indonesia, di antaranya adalah ketidaksiapan kompetensi apoteker untuk langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Hal ini disebabkan oleh kurikulum perguruan tinggi farmasi yang belum mendukung ke arah ini. Selama ini, kurikulum pendidikan tinggi farmasi kebanyakan mengarah kepada kurikulum industri ataupun pengembangan bahan alam. Namun di era pharmaceutical care saat ini, kurikulum perguruan tinggi farmasi yang ingin mengabdi di ranah pelayanan dituntut berubah ke arah klinis. Perubahan ini sudah dimulai secara perlahan, namun memang masih jauh dari kesempurnaan. Tetapi setidaknya titik terang menuju kejayaan kefarmasian sudah terlihat dari hari ini.

Kembali ke tema di atas bahwa untuk menciptakan sebuah derajat kesehatan masyarakat Indonesia, dibutuhkan sebuah sistem kesehatan nasional yang melibatkan peran peran multi disiplin ilmu: dokter, apoteker, perawat, asisten apoteker, ahli gizi dan sebagainya. Kesemua disiplin ini bekerja secara interpersonal, artinya saling ada koordinasi yang mesti terjalin dalam sebuah pelayanan. Contohnya, komunikasi antara apoteker dengan dokter, apoteker dengan perawat, dokter dengan ahli gizi dan sebagainya.

Khusus bagi pekerjaan kefarmasian, yang menjadi kompetensi dasarnya dalam dunia pelayanan adalah bagaimana menganalisa atau menskrining resep, memantau terapi obat, melakukan konseling dan memberikan informasi seputar obat. Ini adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang farmasis untuk menjalankan konsep pharmaceutical care.

Untuk itu, butuh keseriusan yang optimal dari pribadi masing-masing untuk memperkaya kompetensinya tersebut serta membangun hubungan yang baik antara sesama pelaku di bidang kesehatan, menciptakan rasa saling membutuhkan dan kemauan yang tulus dalam mendedikaasikan disiplin ilmu masing masing.

Jika sudah berada dalam kondisi ideal seperti ini, bukan tidak mungkin masyarakat yang sejahtera bisa terwujud. Hayooo apoteker, sudah saatnya kita bangun dari tidur panjang ini!

Tentang Penulis:

Berly Surya Dharma, S.Farm, Apt adalah Apoteker lulusan Profesi Apoteker  Universitas Andalas, Padang, Indonesia.